Tampilkan postingan dengan label Group Band. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Group Band. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 April 2011

SOULJAH

Profil Souljah
    profilNama Souljah diambil dari kata Soldier yang berarti "pejuang", namun diucapkan dengan logat Jamaica. Tahun 2005 Renhat, Bayu, Dimas, Ari dan Danar bertemu dan membentuk Arigatoo. Arigatoo merekrut Shanty (trumpet) dan Ocha (trumpet) juga Vino (alto saxophone). Namun tak lama Shanty hengkang. Formasi Arigatoo yang terakhir ini bertahan cukup lama sepanjang 1999-2001. Kami menambah satu orang personil lagi yaitu David (trumpet). Renhat memutuskan untuk melanjutkan studi ke Hawaii. Ocha, Ari, dan Dimas juga memilih konsentrasi pada pekerjaannya dan melepaskan atribut anak band mereka. 2002, Renhat dan Dimas kembali bergabung. Kami bertemu Sa'id (toasting/rap), yang menambahkan nuansa lain dalam lagu kami. Album pertama Arigatoo,"Kami Bukan Perawan Lagi" rilis di pasaran pada tahun 2003.Tak lami kami melepaskan Arigatoo dan melahirkan Souljah. Tak hanya ska yang kita mainkan. Tapi juga dance hall, dub, reggae, dan perkawinan dengan musik lain, seperti heavy metal, drum n bass, dan hip hop. Semua lagu ini dapat dinikmati di album perdana Souljah, BREAKING THE ROOTS.

    Personel:
    Renhat (bass),
    Bayu (guitar),
    Dimas (drum),
    Danar (vocal)
    Vino (alto saxophone)
    David (trumpet)
    Sa'id (toasting / rap)

    Jumat, 26 November 2010

    Group Band Tipe-X



    SEJARAH MUSIK SKA

    Untuk mempelajari kita harus memahami tentang sebuah makna dalam perjalanan waktu.
    Begitu halnya dengan sejarah musik ska.

    Adalah Perang Dunia II yang mengubah segalanya. Kekuasaan Inggris terhadap negara-negara
    jajahannya runtuh sebelum masa PD II & terpecah belah pada saat pertengahan masa peperangan.
    Inggris memeberikan kemerdekaan kepada negara-negara jajahannya setelah mendapat tekanan
    dari pemerintahan kolonial. Pada tahun 1962 Jamaika membentuk pemerintahan sendiri
    meskipun masih tetap sebagai negara persemakmuran. Budaya Jamaika & musiknya mulai
    terefleksi dalam optimisme baru & aspirasi rakyat yang liberal.

    Sejak tahun 40'an Jamaika telah mengadopsi & mengadaptasi berbagai bentuk musik dari Amerika.
    Pada saat PD II berakhir, begitu banyak band-band di Jamaika yang memainkan musik-musik dansa.
    Grup seperti Eric Dean Orchestra dengan trombonisnya Don Drummond & master gitarisnya
    Ernest Ranglin terpengaruh oleh musisi-musisi jazz Amerika seperti Count Bassie, Erskine
    Hawkins, Duke Ellington, Glenn Miller & Woody Herman. Ditahun 50'an ketenaran band-band
    jazz di Amerika digantikan oleh grup-grup yang kecil & cenderung lebih memainkan
    irama bop/rhythm & blues sound. Musisi Jamaika yang sering berkunjung ke Amerika
    terpengaruh & membawa pola permainan musik tersebut ke daerah asalnya. Band-band lokal
    di Jamaika seperti Count Smith The Blues Blaster, Sir Nick The Champ & Tom The Great
    Sebastian mulai memainkan gaya baru tersebut.
    Ditahun 1954, pertunjukan terbesar pertama kali diadakan di kota Kingston tepatnya
    di Ward Theatre. Band-band tradisional yang memainkan irama mento-folk-calypso ikut ambil
    bagian & sering sekali band-band tersebut mengisi acara di hotel-hotel yang ada di Jamaika
    & seputar pulau tersebut. Pada akhir tahun 50'an pengaruh-pengaruh jazz, R&B, & mento
    (sejenis musik calypso) melebur menjadi satu bentuk baru yang dinamakan 'shuffled'.
    Irama shuffled memperoleh popularitas berkat kerja keras musisi-musisi seperti Neville
    Esson, Owen Grey, The Overtakers & The Matador Allstars. Banyak studio & perusahaan rekaman
    yang mengalami perkembangan & terus berusaha untuk mencari talenta-talenta baru.
    The Jamaican Broadcasting Corporation pun ikut membangkitkan semangat kepada musisi-musisi
    muda melalui siaran acara-acara di radio.

    Dua orang yang amat berpengaruh dalam perkembangan musik di Jamaika pada tahun 50'an adalah
    Duke Reid & Clement Seymour Dodd. Bersama istrinya, Duke Reid memiliki toko 'Treasure Island
    Liquor' yang berlokasi di jalan Bond (Bond street). Soundsystem Reid dikenal dengan nama
    'The Trojan', diambil dari tulisan yang tertera pada truknya. Truk yang biasa digunakan
    sebagai angkutan barang untuk tokonya. Dodd menamakan soundsystem miliknya 'Sir Coxsone
    Downbeat' yang diambil dari nama pemain kriket asal Yorkshire, Coxsone. Sepanjang akhir
    dekade, kedua orang tersebut memimpin persaingan dalam bisnis musik.
    Walaupun Coxsone lebih dekat dengan 'Ghetto'(perkampungan yang didiami kaum atau kelompok
    tertentu) Adalah Reid yang dianugerahi sebagai 'King of sound & blues' di Success Club
    (acara penganugerahan) di tahun 1956, 1957, 1958.

    Tahun 1962, saat di mana Jamaika sedang gandrung meniru musik-musik Amerika, Cecil Bustamente
    Campbell yang kemudian dikenal dengan nama 'Prince Buster', tahu bahwa sesuatu yang baru
    amat dibutuhkan pada saat itu. Ia memiliki seorang gitaris yang bernama Jah Jerry yang
    kemudian bereksperimen di musik dengan menitikberatkan 'ketukan 'afterbeat' ketimbang
    'downbeat'. Hingga pada saat ini ketukan afterbeat menjadi esensi dari singkop (penukaran
    irama) khas Jamaika. Ska pun lahir. Soundsystem/studio rekaman pun mulai merekam hasi kerja
    mereka. Dengan tidak memberikan label pada vinyl (piringan hitam) dengan tujuan agar
    memperolehkeuntungan diantara para pesaingnya. Sehingga yang lain tidak dapat melihat
    apa yang dimainkan & 'mencuri' untuk sondsystem mereka sendiri.

    Perang antar soundsystem pun memuncak hingga pada saat para donatur terancam oleh segerombol
    orang-orang yang menyebabkan permasalahan. Orang-orang ini dinamakan 'Dance Hall Crashers'.
    Meskipun fasilitas Mono Recording yang masih primitif, adalah keteguhan hati dari antusiasnya
    akan musik ska yang memungkinkan untuk menjadi musik komersil dari Jamaika yang pertama kali.
    Dan kenyataannya ska dikenal sebagai musik dansa rakyat Jamaika.

    Sepanjang tahun 60'an wilayah ghetto di Jamaika dipenuhi oleh pemuda-pemuda yang mencari
    pekerjaan. Pada waktu itu amat susah di dapat. Pada awalnya pemuda-pemuda ini tidak tertarik
    dengan optimisme musik ska. Pemuda-pemuda tersebut menciptakan identitas kelompok sebagai
    'Rude Boy' (sebuah trend dikalangan pemuda yang pernah terjadi pada periode awal tahun 40'an)
    Menjadi 'Rude' artinya menjadi seseorang dimana masyarakat menganggapnya tidak berguna.
    Gaya dansa ska para Rude Boy memiliki ciri khas tersendiri, lebih pelan, dengan tingkah
    seakan-akan meninju seseorang. Rude Boy memiliki koneksitas dengan 'Scofflaws'(orang-orang
    yang selalu menentang hukum) & dunia kriminal lainnya. Hal ini terefleksikan dalam lirik-lirik
    lagu ska. (catatan: gaya penampilan berpakaian Rude Boy yaitu dengan celana panjang yang
    mengatung hanya semata kaki). Musik ska sekali lagi mengalami perubahan untuk merefleksikan
    'Mood of the rude' dengan menambahkan tensi pada permainan bass yang disesuaikan dengan
    gaya sebelumnya yaitu 'free-walking bass style'.

    Banyak yang berbondong-bondong mengadu nasib di kota Kingston untuk memperoleh ketenaran
    dalam industri musik yang kemudian beralih menjadi penjual ganja ketika gagal & modal
    makin menipis. Banyak pula yang berkecimpung dalam dunia kriminal (tergambar dalam film
    'The Harder They Come' yang diperankan oleh Jimmy Cliff ...film ini dipercaya mengisahkan
    tentang perjalanan hidup Jimmy Cliff)

    Dua partai politik yang ada di Jamaika membentuk banser bersenjata. Opini publik pun
    mengarah pada penentangan terhadap kelompok Rude Boy & penggunaan senjata api. Peraturan
    pemilikan senjata api pun ditilik kembali setelah melalui periode dimana kepemilikan
    senjata diperbolehkan asal tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Siapa pun yang
    memiliki senjata api yang ilegal, diancam hukuman penjara seumur hidup

    Artis & produser mendukung bahkan 'memaafkan' atas prilaku kelompok Rude Boy melalui
    musik ska. Dukungan untuk tidak menggunakan senjata api terefleksi dalam lagu-lagu seperti
    "Lawless street" dari kelompok Soul Brothers, "Gunmen coming to town" The Heptones.
    Duke Reid memproduseri salah satu grup ska The Rude Boy (shuffling down Bond street)
    C.S. Dodd pun ikut memproduseri grup muda yang memiliki visi musik mereka sebagai
    'rudies' yaitu kelompok The Wailers ( Bob Marley, Peter Tosh, Bunny Wailer).
    Prince Buster menemukan seseorang yang memiliki mitos karakter sebagai Rude Boy yaitu
    Judge Dread. Lagu "007 Shanty Town" yang dinyanyikan oleh Desmond Dekker adalah sebuah
    karya cemerlang dalam mendokumentasikan perilaku Rude Boy kedalam sebuah lagu (berhasil
    memasuki urutan tangga lagu ke 14 di UK Charts)

    Tema rude boy masih mendominasi sepanjang periode ska, dan popularitasnya memuncak sepanjang
    musim panas tahun 1964. Beat ska menjadi lebih lambat & Rocksteady pun lahir. Gelombang
    ska pertama berakhir pada tahun 1968 (Rocksteady adalah bagian cerita lain: Rocksteady
    kemudian melahirkan musik Reggae. Popularitas musik Reggae di Inggris di sebarkan oleh
    Skinhead; kelompok Rastafarian mengadopsi musik Reggae & lirik-lirik lagunya cenderung
    bertemakan ajaran Rastafari & pandangan Relijiusnya, Reggae pun berkembang menjadi 'Dub',
    'Dancehall', & seterusnya ...& seterusnya ...)

    Memasuki gelombang kedua ...sebelumnya marilah kita lihat beberapa sejarah ska lainnya:
    ditahun 1962, saat di mana Inggris menjanjikan jaminan secara tak terbatas kepada para
    imigran yang berasal dari negara-negara persemakmurannya, kerusuhan ras pun terjadi.
    Disaat itu musik ska & Reggae sedang populer. Dibawa dari Jamaika oleh banyak musisi &
    produser yang ikut berimigrasi, termasuk 'The Trojan' & seorang kelahiran Kuba, Laurel
    Aitken. Pada tahun 70'an, imej Rude Boy diperbaharui & ter-ekspresi dalam penggabungan
    2 jenis musik yang masih tergolong baru di Inggris yaitu Reggae & Punk oleh band
    The Clash (Rudie can't fail). Antara pertengahan hingga akhir tahun 70'an, band seperti
    The Coventry Automatics memilih untuk memainkan ska ketimbang Reggae karena menurut
    Jerry Dammers (pendiri band tersebut), memainkan musik ska lebih mudah & gampang.
    The Coventry Automatics merubah namanya menjadi The Specials AKA The Automatics,
    kemudian berubah lagi menjadi The Specials.

    Selanjutnya pada tahun 1979 Jerry Dammers mendirikan 2Tone Records. Keinginan Dammers
    layaknya seperti Prince Buster di awal tahun 60'an yaitu menciptakan sesuatu yang baru.
    Hitam & putih menjadi simbol. Lahirlah yang dinamakan dengan 2Tone ska. Logo 2Tone yaitu
    gambar kartun pria berpakaian jas hitam dengan kemeja putih, dasi hitam, topi 'pork pie',
    kaca mata hitam, kaus kaki putih & sepatu 'loafers' hitam menjadi logo resmi yang
    karakternya di beri nama 'Walt Jabsco' (diambil dari nama Walt Disney, pendiri film kartun
    & Jabsco berarti ganja dalam bahasa slang latin). Diciptakan oleh Dammers sendiri
    berdasarkan pose Peter Tosh pada sebuah photo awal kelompok The Wailers yang dapat
    di lihat pada cover album 'The Wailing Wailer Studio One Realease'.

    Pada saat kerusuhan ras sedang terjadi, & organisasi rasis 'National Front' sedang tumbuh
    pesat, pakaian hitam putih & band yang anggota nya terdiri dari multi ras, mengetengahkan
    lagu-lagu yang bertemakan 'unity' disaat negara tersebut sedang terpecah belah oleh isu
    rasial. Sama halnya dengan musik ska di Jamaika, situasi yang terjadi pada saat itu
    terefleksi kedalam lirik lagu, seperti "Racist Friend" The Specials AKA. Band-band seperti
    Madness, The Beat, The Selecter, The Bodysnatchers & The Specials membuat ska menjadi
    sesuatu yang segar dengan mengolah nomor-nomor ska klasik dari Prince Buster (Roughrider,
    Madness, Too hot, dll.) & artis-artis gelombang pertamanya.Band lain yang tidak termasuk
    2Tone tetapi berasosiasi dengan gerakan 2Tone adalah Bad Manners. Ada juga persilangan
    dengan artis gelombang pertama dengan band 2Tone (Rico Rodriguez adalah pemain trombone
    yang menjadi additional player pada kelompok The Specials, anak murid dari pemain trombone
    ternama Don Drummond & sering dipakai sebagai musisi studio do Jamaika)

    Pada akhirnya Chrysalis Records membeli 2Tone dari Dammers dengan keputusan menandatangani
    perjanjian kontrak dengan band-band 2Tone lainnya. Termasuk antara lain: The Specials,
    The Selecter, Madness, Rico Rodriguez, The Swinging Cats, The Friday Club, The Bodysnatchers,
    The Hisons, JB Allstars, Specials AKA, The Apollonairs, The Beat (di Amerika di kenal
    dengan nama 'The English Beat' karena sudah ada band yang memakai nama The Beat) & sebuah
    single dari Elvis Costello. (catatan: single Elvis Costello tersebut berjudul "I can't
    stand up for falling down" menjadi permasalahan & tidak pernah di jual. Copy lagu tersebut
    diberikan secara gratis kepada penggemar Costello pada saat pertunjukannya. Costello
    memproduseri debut album The Specials & menjadi guest singer sekaligus produser untuk
    single The specials AKA yang berjudul Nelson Mandela 12".

    Tahun 1985 2Tone label bubar. Dammers mengalami kebangkrutan terhadap perusahaan Chrysalis.
    Band-band 2Tone mengalami masa popularitasnya dari tahun1978-1985 walau bagaimanapun bukan
    hanya 2Tone yang memainkan musik ska. Diantara band-band lainnya adalah The Tigers,
    Ska City Rockers, The Akrylykz (dengan Roland Gift pada tenor sax, yang kemudian bergabung
    bersama mantan anggota The English Beat Cox, & Steele yang belakangan menjadi penyanyi
    di Fine Young Cannibals), The Employees, The Piranhas, dan masih banyak lagi ...

    Hal tersebut menutup gelombang kedua musik ska ...pada gelombang ketiga: dengan berakhirnya
    2Tone & gelombang kedua, musik ska menjadi sempit namun tidak menjadi musik yang usang.
    Adalah The Toasters (pernah merilis single dibawah nama 'Not Bob Marley'), Bim Skala Bim,
    The Untouchables & Fishbone yang menjadikan tradisi dalam mencampur beat ska dengan unsur
    unsur musik lainnya seperti pop, rock dan beat-beat lainnya.

    Keberadaan gelombang ketiga musik ska terdiri dari berbagai bentuk dengan mengkombinasikan
    hampir setiap jenis musik yang kira-kira dapat dikawinkan dengan irama ska. Band-band seperti
    Jump With Joey, Hepcat, Yebo, NY Ska Jazz Ensemble & Stubborn Allstars tetap bermain pada
    akar ska Jamaika. Operation Ivy, Voodoo Glow Skulls, Mighty Mighty Bosstones, dll. menggunakan
    energi punk untuk menciptakan ska-core. Regatta 69, Fillibuster, Urban Blight, dll. tetap
    bertahan pada corak Reggae/Rocksteady beat. Punch The Clown, Undercover S.K.A., dll. mencirikan
    pengaruh dari gaya 2Tone. Yang menarik adalah band asal Florida, Pork Pie Tribes menggabungkan
    beat ska dengan musik tradisional Irlandia. Hal lain yang lebih menarik adalah grup band
    The Brownies yang mencampurkan ska dengan apa saja !!

    Imej Rude Boy/Rude Girl hadir kembali pada gelombang ketiga, namun kali ini tidak sebagai
    pemberontak. Tetapi sebagai suporter yang fanatik dengan musik ska. Digelombang ketiga ini
    juga terdapat hal-hal yang tidak pernah ada pada awal gelombang pertama (beberapa diantaranya
    ada yang tidak pernah di mengerti) seperti 'Straight Edge' dengan logo 'X' ditangan, boneheads,
    OI/SKA, Skinhead Against Racial Prejudiced (SHARP's) juga konsep-konsep 'sell outs'.
    Ada beberapa aspek diantaranya yang belum berubah: ska masih menjadi musik kalangan remaja,
    setiap pertunjukan ska dapat disaksikan oleh segala umur & tidak terlalu mahal untuk
    mengakomodasikannya. Disamping itu juga ska masih membentuk beat yang unik & harmonis walaupun
    digabungkan dengan unsur-unsur musik lainnya. & orang-orang pun masih banyak yang menikmatinya.